> > rangkuman teori dalam psikologi belajar

rangkuman teori dalam psikologi belajar

Posted on 2011/03/14 | No Comments

RANGKUMAN 1
TEORI BEHAVIOR
Teori behavior adalah perubahan tingkah laku setelah terjadi proses belaar dalam dirim teori mengandung banyak variasi dalam sudut pandang, pelopor pendekatan behavioristik pada dasarnya berpegang pada keyakinan bahwa banyak manusia merupakan pada hasil suatu hasil proses belajar, behavioristik berpangkal beberapa keyakinan tentang martabat manusia , sebagai bersifat falsafah dan sebagiannya lagi psikologis, yaitu :

1. Manusia memiliki potensi untuk bertingkah laku baik atau buruk , tepat atau salah . Berdasarkan keturunan atau pembawaan dan berkat interaksi antara bekal keturunan dan lingkungan, terbentuknya pola-pola tingkah laku yang menjadi ciri khas dari kepribadian
2. Manusia mampu memperoleh dan membentuk sendiri pola-pola bertingkah lakunya sendiri , menangkap apa yang dilakukan dan mengatur serta mengontrol perilaku sendiri .
3. Manusia mampu memperoleh dan membentuk sendiri pola-pola tingkah laku melalui proses belajar.
4. Manusia dapat mempengaruhi dirinya sendiri atau perilaku orang lain .
Keyakinan-keyakinan, sebagaimana di rumuskan oleh Diaten dan George di kutip dalam buku karangan George dan Kristianie , theory, method, and processes of counceling and psyehotherapy (108)

Teori behavior adalah membatasi perilaku sebagai fungsi interaksi antara pembawaan dan lingkungan, kegunaan teori behavior ini in yaitu untuk membantu individu mengubah perilaku agar memecahkan masalah
RANGKUMAN 2
TEORI PEMROSESAN IMFORMASI DALAM PEMBELAJARAN
Modal pemrosesan imformasi pada mulanya dilakukan dengan menggunakan system computer sebgagai analogi, bagaimana di sadari bahwa penggunaan computer sebagai analogi manusia memproses, meyimpan dan mengingat kembali imformasi kembali imformasi sesungguhnya kurang tepat karena terlalu menyederhanakan manusia.
1. Penerimaan sensori ( alat indera )
Menurut model pemrosesan imformasi, suati imformasi diterima melalui perekan visual,pendengar, pencium, pengecap, daan sentuhan.
Pemindahan ingatan dalam jangka pendek berlaku apabila kita member perhatian kepada bagian imformasi yang disalurkan keingatan jangka pendek melalui “ Perhatian Terpilih “( selection anttention ). Imformasi yang mulanya tidak bermakna, menjadi dikenal oleh indera kita berdasarkan pola-pola yang ada dan dipindah keingatan jangka pendek.
2. Lipa ingatan dalam jangka panjang ( forgetting )
Lupa pada dasarnya adalah kegagalan dalam mengingat kembali sesuatu butir imformasi dengan tepat. Dalam model pemrosesan imformasi ada tiga teori yang di kemukakan
1). Teori pudar ( decay theory )
Menurut teori pudar ini adalah imformasi menjadi pudar sebabkan oleh waktu, karena waktu sudah cukup lama , maka imformasi yang pernah diterima oleh seseorang menjadi pudar atau kabar
2). Teori ingat kembali ( retrieval theory )
Menurut teori ini, imformasi sesungguhnya ada, tetapi tidak dapat di cari karena “ Isyarat “, yang sesuai dengan imformasi itu.
3). Teori gangguan ( inferference theory )
Menurut teori ini, imformasi lain menggangu imformasi yang ada yang hendak di ingat teori gangguan ini terbagi kedalam beberapa teori lagi
 Gangguan proaktif
 Gangguan retroaktif
3. Empat proses utama dalam model pemrosesan imformasi
Dalam model pemrosesan imformasi ada emapat yaitu sebagai berikut :
1) Pengkodean
2) Penyimpanan
3) Mengingat kembali
4) Lupa
4. Ingatan jangka pendek ( short term memory )
Memori ini juga dikenal dengan istilah “ ingatan kerja “ ( working memory ) . Tempo ingatan jangka pendek 10-20 menit jika butir imformasi tidak di ulang
5.Ingatan jangka panjang ( long term memory )
Ingatan jangka panjang masih jadi perhatian kebanyakan penelitian berkenaan dengan cara imformasi di koding, di simpan m dingat kembali, dan dilupakan
6. Pengkodean imformasi dalam ingatan jangka panjang
Pengkodenan adalah cara imformasi secara tepat, menandai, dan letakkannya ke dalam memori. Mula-mula informasi dikenal secara tepat dan ditandai temuan-temuan penelitian menunjukkan bahwa individu yang mengkodekan imformasi pada “ tingkatan yang bermakna “ ( meaning level ) cenderung mampu memidahkan imformasi itu kdalam ingatan jangka pangan dengan lebih bagus dn lebih berkesan sehingga membantu proses mengingat kembali imformasi dari ingatan jangka panjang
7. Mengingat kembali imformasi dari ingatan jangka panjang
Apabila kita mencoba mengingat kembali imformasi yang di simpan dalam ingatan jangka panjang, kejadian yang dapat muncul adalah
1) Kita menambah imformasi
2) Kita tinggalkan imformasi
3) Prinsip pengkhususan pengkodean
8. Penyimpanan pengetahuan dalam ingatan jangka panjang
Imformasi yang disimpan dalam ingatan jangka panjang itu bisa diingat kembali terdapa 5 bentuk utama
1) Pengetahuan deklaratif
2) Pengetahuan procedural
3) Imageri
4) Stereotype
5) Skema
KELOMPOK 3
TEORI METAKOGNISI DALAM PEMBELAJARAN
Istilah metakognisi yang dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan metacognition berasal dari dua kata yang dirangkai yaitu meta dan kognisi (cognition). Istilah meta berasal ari bahasa Yunani μετά yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan after, beyond, with, adjacent), adalah suatu prefik yang dugunakan dalam bahasa Inggris untuk menjukkan pada suatu abstraksi dari suatu konsep. (Wikipedia, Free Encyclopedia, 2008). Sedangkan cognition, menurut Ensklopedia tersebut berasal dari bahasa Latin yaitu cognoscere, yang berarti mengetahui (to know) dan mengenal (to recognize). Kognisi, disebut juga gejala-gejala pengenalan, merupakan “the act or process of knowing including both awareness and judgement” (Webster’s Seventh New Collegiate Dictionary, 1972 : 161). Sementara itu Huitt (2005) menyatakan “cognition refers to the process of coming to know and understand; the process of encoding, storing, processing, retrieving information.”

Metakognisi (metacognition) merupakan suatu istilah yang diperkenalkan oleh Flavell pada tahun 1976. Menurut Flavell, sebagaimana dikutip oleh Livingston (1997), metakognisi terdiri dari pengetahuan metakognitif (metacognitive knowledge) dan pengalaman atau regulasi metakognitif (metacognitive experiences or regulation). Pengetahuan metakognitif menunjuk pada diperolehnya pengetahuan tentang proses-proses kognitif, pengetahuan yang dapat dipakai untuk mengontrol proses kognitif. Sedangkan pengalaman metakognitif adalah proses-proses yang dapat diterapkan untuk mengontrol aktivitas-aktivitas kognitif dan mencapai tujuan-tujuan kognitif.
Sedangkan Livingstone (1997) mendefinisikan metakognisi sebagai thinking about thinking atau berpikir tentang berpikir. Metakognisi, menurut tokoh tersebut adalah kemampuan berpikir di mana yang menjadi objek berpikirnya adalah proses berpikir yang terjadi pada diri sendiri. Ada pula beberapa ahli yang mengartikan metakognisi sebagai thinking about thinking,, learning to think, learning to study, learning how to learn, learnig to learn, learning about learning (NSIN Research Matters No. 13, 2001).
Sementara itu Margaret W. Matlin (1998: 256) dalam bukunya yang diberi judul Cognition, menyatakan : “Metacognition is our knowledge, awareness, and control of our cognitive process” . Metakognisi, menurut Matlin, adalah pengeta-huan, kesadaran, dan kontrol terhadap proses kognitif yang terjadi pada diri sendiri.
Wellman (1985) sebagaimana pendapatnya dikutip oleh Usman Mulbar (2008) menyatakan bahwa: Metacognition is a form of cognition, a second or higher order thinking process which involves active control over cognitive processes. It can be simply defined as thinking about thinking or as a “person’s cognition about cognition” Metakognisi, menurut Wellman, sebagai suatu bentuk kognisi, atau proses berpikir dua tingkat atau lebih yang melibatkan pengendalian terhadap aktivitas kognitif. Karena itu, metakognisi dapat dikatakan sebagai berpikir seseorang tentang berpikirnya sendiri atau kognisi seseorang tentang kognisinya sendiri.
William Peirce mendefinisikan metakognisi secara umum dan secara khusus. Menurut Peirce (2003), secara umum metakognisi adalah berpikir tentang berpikir. Sedangkan secara khusus, dia mengutip definisi metakognisi yang dibuat oleh Taylor, yaitu “an appreciation of what one already knows, together with a correct apprehension of the learning task and what knowledge and skills it requires, combined with the ability to make correct inferences about how to apply one’s strategic knowledge to a particular situation, and to do so efficiently and reliably.” (Peirce, 2003).
Tokoh berikut yang juga mendefinisikan metakognisi antara lain Hamzah B. Uno. Menurut Uno (2007: 134) metakognisi merupakan keterampilan seseorang dalam mengatur dan mengontrol proses berpikirnya.
Taccasu Project (2008) mendiskripsikan pengertian metakognisi sebagai berikut ini.
1) Metacognition is the part of planning, monitoring and evaluating the learning process.
2) Metacognition is is knowledge about one's own cognitive system; thinking about one's own thinking; essential skill for learning to learning.
3) Metacognition includes thoughts about what are we know or don't know and regulating how we go about learning.
4) Metacognition involves both the conscious awareness and the conscious control of one’s learning.
5) Metacognition is learning how to learn involves possessing or acquiring the knowledge and skill to learn effectively in whatever learning situation learners encounters.
Metakognisi, sebagaimana dideskripsikan pengertiannya oleh Taccasu Project pada dasarnya adalah kemampuan seseorang dalam belajar, yang mencakup bagaimana sebaiknya belajar dilakukan, apa yang sudah dan belum diketahui, yang terdiri dari tiga tahapan yaitu perencaan mengenai apa yang harus dipelajari, bagaimana, kapan mempelajari, pemantauan terhadap proses belajar yang sedang dia lakukan, serta evaluasi terhadap apa yang telah direncanakan, dilakukan, serta hasil dari proses tersebut.
Berdasarkan beberapa definisi yang telah dikemukakan pada uraian di atas dapat diidentifikasi pokok-pokok pengertian tentang metakognisi sebagai berikut.
1) Metakognisi merupakan kemampuan jiwa yang termasuk dalam kelompok kognisi.
2) Metakognisi merupakan kemampuan untuk menyadari, mengetahui, proses kognisi yang terjadi pada diri sendiri.
3) Metakognisi merupakan kemampuan untuk mengarahkan proses kognisi yang terjadi pada diri sendiri.
4) Metakognisi merupakan kemampuan belajar bagaimana mestinya belajar dilakukan yang meliputi proses perencanaan, pemantauan, dan evaluasi.
5) Metakognisi merupakan aktivitas berpikir tingkat tinggi. Dikatakan demikian karena aktivitas ini mampu mengontrol proses berpikir yang sedang berlangsung pada diri sendiri.
2. Komponen-komponen Metakognisi
Para ahli yang banyak mencurahkan perhatiannya pada metakognisi, seperti John Flavel (Livington, 1997), Baker dan Brown, 1984, dan Gagne 1993 (Nur, 2005), menyatakan bahwa metakognisi memiliki dua komponen, yaitu (a) pengetahuan tentang kognisi, dan (b) mekanisme pengendalian diri dan monitoring kognitif. Sedang Flavell (Livingston, 1997) mengemukakan bahwa metakognisi meliputi dua komponen, yaitu 1) pengetahuan metakognisi (metacognitive knowledge), dan 1) pengalaman atau regulasi metakognisi (metacognitive experiences or regulation). Pendapat yang serupa juga dikemukakan oleh. Huitt (1997) bahwa terdapat dua komponen yang termasuk dalam metakognisi, yaitu (a) apa yang kita ketahui atau tidak ketahui, dan (b) regulasi bagaimana kita belajar (Mulbar, 2008).
Kedua komponen metakognisi, yaitu pengetahuan metakognitif dan regulasi metakognitif, masing-masing memiliki sub komponen-sub komponen sebagai-mana disebutkan berikut ini (OLRC News. 2004)
1) Pengetahuan tentang kognisi (knowledge about cognition)
Pengetahuan metakognitif terdiri dari sub kemampuan-sub kemampuan sebagai berikut :
a) declarative knowledge
b) procedural knowledge
c) conditional knowledge
2) Regulasi tentang kognisi (regulation about cognition)
Regulasi metakognitif terdiri dari sub kemampuan-sub kemampuan sebagai berikut:
a) planning,
b) informationmanagementstrategies,
c) comprehension monitoring,
d) debugging strategies, dan
e) evaluation.
Pengetahuan tentang kognisi adalah pengetahuan tentang hal-hal yang berhubungan dengan kognisinya, yang mencakup tiga sub komponen. Komponen pertama, declarative knowledge, yaitu pengetahuan tentang diri sendiri sebagai pembelajar serta strategi, keterampilan, dan sumber-sumber belajar yang dibutuhkannya untuk keperluan belajar. Komponen kedua, procedural knowledge, yaitu pengetahuan tentang bagaimana menggunakan apa saja yang telah diketahui dalam declarative knowledge tersebut dalam aktivitas belajarnya. Komponen ketiga, conditional knowledge, adalah pengetahuan tentang bilamana menggunakan suatu prosedur, keterampilan, atau strategi dan bilamana hal-hal tersebut tidak digunakan, mengapa suatu prosedur berlangsung dan dalam kondisi yang bagaimana berlangsungnya, dan mengapa suatu prosedur lebih baik dari pada prosedur-prosedur yang lain.
Regulasi kognisi terdari dari sub komponen-sub komponen sebagai berikut. Pertama, planning, adalah kemampuan merencanakan aktivitas belajarnya. Kedua, information management strategies, adalah kemampuan strategi mengelola informasi berkenaan dengan proses belajar yang dilakukan. Ketiga, comprehension monitoring, merupakan kemampuan dalam memonitor proses belajarnya dan hal-hal yang berhubungan dengan proses tersebut. Keempat, debugging strategies, adalah kemampuan strategi-strategi debugging yaitu strategi yang digunakan untuk membetulkan tindakan-tindakan yang salah dalam belajar. Kelima, evaluation, adalah kemampuan mengevaluasi efektivits strategi belajarnya, apakah ia akan mengubah strateginya, menyerah pada keadaan, atau mengakhiri kegiatan tersebut.


RANGKUMAN 4
TEORI BELAJAR SOSIAL DALAM PEMBELAJARAN
Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.
Dalam observational learning terdapat empat tahap belajar dari proses pengamatan atau modeling Proses yang terjadi dalam observational learning tersebut antara lain :
a. Atensi, dalam tahapan ini seseorang harus memberikan perhatian terhadap model dengan cermat
b. Retensi, tahapan ini adalah tahapan mengingat kembali perilaku yang ditampilkan oleh model yang diamati maka seseorang perlu memiliki ingatan yang bagus terhadap perilaku model.
c. Reproduksi, dalam tahapan ini seseorang yang telah memberikan perhatian untuk mengamati dengan cermat dan mengingat kembali perilaku yang telah ditampilkan oleh modelnya maka berikutnya adalah mencoba menirukan atau mempraktekkan perilaku yang dilakukan oleh model.
d. Motivasional, tahapan berikutnya adalah seseorang harus memiliki motivasi untuk belajar dari model.

Kekuatan Teori Bandura
Teori Bandura masih digunakan sampai sekarang khususnya dalam dunia pendidikan. Siswa cenderung meniru kelakuan atau menjadikan seseorang sebagai model untuk ditiru.

Kelemahan Teori Bandura
Tidak menjelaskan pengaruh pembawaan yang juga relatif kuat dalam perkembangan seseorang. Dengan perkataan lain, teori ini tidak dapat menjelaskan perilaku yang disebabkan oleh perbedaan individual seperti faktor kepribadian dan perbedaan kemampuan dasar.

RANGKUMAN 5
TEORI PROBLEM SOLVING
Setiap hari kita dihadapkan pada berbagai situasi dan masalah harus diselasaikan dengan baik . Maslah merupakan suatu kesatuan yang perlu diselesaikan dan menjadi tanggung jawab setiap individu penyelasai berbagai masalah melibatkan berbagai jenis permikiran / kongnisi seperti mengindefikasikan, mengkatekorikan , mengusung dan membuat inferensi, merumuskan analogi dan mengiat kembali, posner ( 1973 )menyatakan problem solving / pemecahan masalah terbagi dalam tiga tahap yaitu
Refresentasi masalah
Mental set
Memutuskan apakah solusi tersebut memuaskan atau tidak
Faktor-faktor yang mendorong timbulnya pemikiran yang kreatif
Menggunaka analogi insight
Berpikir divergin ( thingking divegent )
Beberapa teori lain mengenai problem solving adalah
Beberapa pencetus teori berusaha untuk menjelaskan problem solving melalui istilah prinsip-prinsip associative learning yang berakar pada studi tentang classical dan instrumen conditioning ( mahzman , 1955 )
Maler ( 1940 ) membedakan antara memecahkan maslah dengan berdasarkan pada transfer langsung pior learning ( reproductive thinking ) dan memcahkan masalah dengan menginteregrasi pengalamanan sebelumnya dalam novel fashion ( productive thinking )
Individu sebagai aktif prosesor yang memproses batasan-batasan maslah dan menggunakan keduanya yaitu prosesan turin yang bersifat umum dan spesifik .
Beberapa faktor yang mempengaruhi problem solving ( hunt 1972, newell dab simon 1972, norman dan bebrow 1957 )
Kendala dan penyelesaian masalah
-pola piker ( mind set )
Adalah pola pikir seseorang yang melihat / menyelasaikan suatu masalah hnaya dengan, cara tertentu saja sehingga seringkali menjadi penghalang.
Ketetapan fungsional
Adalah seseorang yang berpandang bahwa sesuatu objek hnaya dapat digunakan berdasrkan pengalaman lampau saja sehingga seringkali menyulit

RANGKUMAN 6
TEORI KONTRUKTIVISME DALAM PEMBELAJARAN
Tekanan utama teori kuntruktivisme adalah lebih memberikan kepda siswa/subjek didik dalam proses pembelajaran dari pada guru atau intruktur. Menurut para ahli kuntruktivisme , belajar jiga dipengaruhi konteks keyakinan , dan sikap siswa dalam proses pembelajaran, para siswa di dorong untuk untuk menggali dan menumukan pemecahan masalah sendiri serta untuk mencoba merumuskan gagasan-gagasan dan hipotesis.
Dua teori kontruktivisme yang utama dikenal dengan istilah “kontruktivisme social” dan kontruktivisme kognitif”. Ada sejumlah ciri-ciri proses pembelajaran yang sangat ditekankan oleh teori kontruktivisme, yaitu :
a) Menekankanpada proses belajar, bukan proses mengajar
b) Mendorong terjadinya kemandirian dan inisiatif belajar para siswa
c) Memandang siswa sebagai pencipta kemauan dan tujuan yang ingin di capai
d) Berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses, bukan menekan pada hasil
e) Mendorong siswa untuk mampu untuk melakukan penyeledikan
f) Menghargai peranan kritis dalam belajar
g) Mendorong berkembangnya rasa ingin tahu secara alami pada siswa
h) Peneliaian belajar lebih menekankan pada kenerja dan pemahaman pada siswa
i) Mendasarkan proses bejarnya pada prinsip-prinsip kognitif
j) Banyak menggunakan terminalogi kognitif untuk menjelaskan proses pembelajaran seperti : periksi inferensi, kreasi dan analisis
k) Menekan pentingnya bagaimana siswa belajar
l) Mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif ddalam dialog atau diskusi dengan siswa lain dan guru
m) Sangat mendukung terjdinya belajar kooperatif
n) Melibatkan siswa dalam situasi dunia nyata
o) Menekan pentingnya konteks dalam belajar
p) Memperhatikan keyakinan dan sikap siswa dalam belajar
q) Memberikan siswa kepada siswa untuk mmbangun pengetahuan dan pemahaman baru yang didasarkan pada pengalaman nyata

Berdasarkan ciri-ciri pembelajaran kontruktivisme tersebut diatas, berikut ini dipaparkan tentang penerapannya di kelas yaitu :
a) Mendorong kemandirina dan inisiatif siswa dalam belajar
b) Guru mengajukan pertanyaan terbuka dan memberikan kesempatan beberapa waktu kepada siswa untuk merespon
c) Memdorong siswa berpikir tingkat tinggi
d) Siswa terlibat secara aktif dalam dialog atau diskusi dengan guru dan siswa lainnya
e) Siswa terlibat dalam pengalaman yang menantang dan mendorong terjadinya diskusi
f) Guru menggunakan data mentah, sumber-sumver utama dan materi-materi interaktif

Leave a Reply

Terimakasih telah memberikan komentar, selamat mejelajahi blog Pendidik Barsel, Kunjungan berharga mohon tinggalkan komentar

Diberdayakan oleh Blogger.